Selasa, 22 Maret 2016

Catatan Perjalanan Gunung Merapi, Jawa Tengah dan sekitarnya

Merapi via New Selo
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung yang terletak di Jawa Tengah. Puncaknya memiliki ketinggian 2913 mdpl. Untuk bisa ke puncak Merapi, kita bisa pilih jalur pendakian sesuai selera masing-masing. Yaitu jalur pendakian Selo – Boyolali, Kaliurang – Sleman, Sawangan – Magelang, dan Deles – Klaten. 

Dari semua pilihan itu, saya pilih kamu. (eyak.. baper.. --)
Saya dan beberapa orang teman memilih jalur New Selo untuk pendakian kali ini. Alasannya, kali aja Merbabu udah buka, jadi bisa belok lagi ke Merbabu. Haha… kami tim gagal move on dari Merbabu.


Tujuan awalnya adalah ke Merbabu, tapi berhubung Merbabu lagi kebakaran, jadi di belok ke tetangganya.. Merapi. Dua gunung itu ada di Jawa Tengah dan jalur pendakiannya juga ga terlalu jauh satu sama lain. Bahkan ada pendaki yang seneng banget kalo main ke Merbabu pasti sekalian ke Merapi. Katanya sih biar sekalian cape dan liburannya. 

Saya dan 5 orang teman saya berangkat terpisah. Saya berangkat ke Solo Jebres dengan kereta pukul 15.15 wib, sedangkat ke-5 orang teman saya berangkat sekitar pukul 4 sore.
Berhubung itu pertama kalinya saya naik kereta jarak jauh sendirian, beberapa hari sebelumnya saya sempat cari-cari info tentang kereta dan stasiun tujuan saya. Dari keisengan itu, saya dapat beberapa tips yaitu jangan lupa bawa buku bacaan dan mp3 agar perjalanan tidak terasa membosankan.
Di jadwal, saya akan sampai di Stasiun Solo Jebres pukul 1 pagi, sedangkan teman-teman saya sampai sekitar pukul 2 pagi. Di dalam kereta selama 10 jam tanpa orang yang saya kenal, hasilnya…selama perjalanan, saya hanya duduk sambil membaca buku atau mendengarkan musik. Di kereta, saya berkenalan dengan mas-mas yang mau ke Malang. Tenang, bukan modus.

“Mas, gimana rasanya ke Malang naik kereta ini, sendirian pula?” Tanya saya 
Mas yang saya lupa namanya itu cuma bilang “cape sih, tapi ya mau gimana lagi. Dari pada saya ga bisa mudik. Haha”

Sesuai jadwal, saya sampai di Solo Jebres pukul 1 malam.
 “Shanti berhasil naik kereta sendiriaaan…… hoooreeee….”


31 Oktober 2015
Sesampainya di Solo Jebres, ada satu tempat yang harus saya kunjungi, yaitu…..TOILET. maklum, selama perjalanan, saya sama sekali ga bergerak dari tempat duduk.  

Saya menunggu ke-5 teman saya di dekat mushola. Disana ada 2 kursi panjang dan 1 meja disudutnya. Stasiunnya benar-benar sepi, di tempat tunggu itu hanya ada saya dan seorang ibu. Berhubung kaki saya mulai kaku karna terlalu lama ditekuk, saya pun memilih untuk berbaring di kursi sambil menikmati dinginnya malam itu.

Pukul 2, ke-5 teman saya datang.
Kami berdiskusi sebentar sambil bercerita perjalanan di kereta masing-masing. Tidak lama, kami keluar stasiun untuk melanjutkan istirahat, diskusi dan ngupi-ngupi sebelum berangkat menuju New Selo.

Sekitar pukul setengah 4 pagi, kami berangkat ke New Selo menggunakan Taxi atau lebih cocoknya disebut mobil sewaan + driver
Setelah mampir sana-sini, pukul 5 pagi kami sampai di New Selo..
Kami pun mendapat ucapan selamat datang dari semesta berupa matahari terbit.
Sesi foto-foto pun dimulai hingga pukul setengah 6 pagi. 


Merbabu

Puas berfoto, kami membagi tugas, 2 orang turun lagi ke bawah untuk mendaftarkan tim kami ke pos pendakian sekalian beli beras yang ternyata lupa kami beli.

Pendakian dimulai sekitar pukul setengah 8 pagi. 
Bang Dedet, Kang Asep, Bang Ophe, Mang Yadhi, A Toto, Shanti

Huh..hah..huh..hah..
Berhubung saya wanita sendiri di tim itu, saya pun memutuskan untuk berjalan di depan. Karena berdasarkan pengalaman, kalau saya berjalan di paling belakang, saya pasti akan tertinggal.
jalur menuju gerbang TNGM
1 jam perjalanan, kami sampai di gerbang Taman Nasional Gunung Merapi.
Kami istirahat sebentar sambil sarapan, dan tidak lupa.. foto-foto lagi. Hhe
Disini masih banyak pohon dan rumput, dan beberapa orang penduduk pun masih terlihat mengambil rumput untuk pakan ternak di sini.

Apa yang unik di tempat ini?
Ada saung nyaman meskipun banyak coretan, dan berhubung masih banyak pohon di sekitarnya jadi tempat ini adeeeeem..



Target kami camp di Pasar Bubrah, jam berapa pun…
Sebelum sampai di Pasar Bubrah, kami harus melalui 2 pos, yaitu Pos 1 dan Pos 2. PINTER…
Tapi, meskipun hanya 2 pos, di jalur pendakian Merapi ini ternyata banyak tempat asik untuk duduk dan tempat bagus untuk foto-foto. Nah.. biasanya 2 hal itu yang bisa bikin waktu pendakian bertambah lama. Sebut saja itu godaan menuju Bubrah.
Sampai pos 1 pukul 11 siang, masih banyak pepohonan jadi jalurnya masih adem. Tapi setelahnya, pohonnya jarang dan panas karena sengatan panas matahari pun sangat TEEERRAAASAAAA.. 

Di Pos 1 ada saung lagi, yang sama nyamannya kaya di gerbang TNGM. Banyak pendaki yang singgah disana untuk istirahat. Jadi, kalo duduk bagi-bagi ya.. jangan dikuasai sama kelompok sendiri aja.
1 jam istirahat sambil ngemil-ngemil udah cukup untuk ngembaliin tenaga kami, paling tidak perut saya jadi rada tenang sedikit dan ga teriak-teriak terus.
 Pukul 12 siang, lumayan menyengat tapi nikmati saja perjalanannya.
Menuju pos 2 ada satu tanjakan yang berhasil membuat kami lebih sering berhenti. Di tanjakan tanpa pohon tinggi ini kami masih bisa mendengar suara adzan dari masjid terdekat.
Kami berkenalan dengan romongan dari mahasiswa Unpad, Bandung. Rencananya mereka juga akan camp di Pasar Bubrah. 

Jalur pendakian menuju Pasar Bubrah ini benar-benar di luar dugaan. Tanjakannya bikin pengen ngecamp aja, tapi setelah lewat tanjakan itu – yang entah namanya apa – kita dibikin takjub sama pemandangannya, meskipun lebih banyak batu disbanding pohon. Tapi ya inilah Merapi.. dengan pesonanya..





Setengah 4 sore, akhirnya kami sampai di Pasar Bubrah.


Apa yang kami lihat disana??
Tidak ada pendaki lain yang camp disana, kami jadi tim pertama yang sampai.. yeaaay…

Lah teruuus???
Lupa ya? Karna sesungguhnya nyari tempat untuk pasang tenda itu siapa cepat dia dapat. Haha..

Oh ya, itu yang dari Bandung gimana?
Sempet ketemu deket Pasar Bubrah, tapi mereka campnya ga jadi di Bubrah. Padahal belum sempet minta pin bbm atau nomor mereka -___- #ehmodus

Keadaan Pasar Bubrah saat itu

Foto-foto, pasang tenda, bersih-bersih, makan, tiduuuur…

Selamat Pagi…
Hari kedua di Merapi,

Angin di sini LUMAYAN, buktinya tenda kami sampai ikutan goyang dari malam sampai pagi dan flysheet yang di pasang di depan tenda ikutan melayang-melayang gara-gara lepas talinya. Dahsyaat…
Pukul 6 pagi, masih pada leyeh-leyeh di dalam tenda. Yang mau muncak tiba-tiba galau berat.
Ya gitu deh hidup, selalu ada pilihan.. mau lanjut tidur di tenda atau naik ke puncak.
Termasuk saya, dari kemarin saya ga ada niat untuk ke puncak karna serem aja liat jalurnya yang berpasir dan penuh batu, tapi nyatanya… saya malah ikutan muncak.
Setelah meyakinkan hati dan mengisi baterai hape, saya mulai muncak pukul setengah 7 pagi. 3 orang udah duluan jalan.

Muncak : Bang Ophe, Kang Asep, saya
Nunggu di tenda : Bang Dedet, Mang Yadhi
A Toto?? Ga tau ke puncak mana

Berhubung saya belum pernah ke Semeru, jadi sempet kaget dan hampir nyerah sendiri pas jalan di pasir menuju puncak. bahkan saya sampai tidak berani untuk mengambil sarung tangan saya yang tertinggal di belakang saya sekitar 2 langkah.

“Mba, ini sarung tangannya? Saya pake dulu ya” tiba-tiba ada mas-mas ngomong di samping saya.
“oh, iya mas, untuk masnya aja deh. Tadi saya ga berani ambil soalnya. Haha..” jawab saya sambil bingung mau ngelangkah ke mana lagi.
“Ayo mba.. semangat..”
“Iya mas, makasih yaJ
Mas-mas itu pun lanjut jalan, dan herannya mas itu jalannya cepet banget, berasa lagi jalan di batu aja bukan di pasir.

Jalan terus, panik terus, saya butuh pegangaaaan…
“Emak.. maju susah, mundur takut. Ini gimana ke Semeru kalo begini aja nyerah?”


“Shaan.. ayoook..” bang Ophe teriak dari atas
“Iyaaak, tunggu”
Setelah setengah jam, saya dan bang Ophe sampai di puncak.

Lah, satunya lagi?
Kang Asep turun lagi pas di jalur pasir, soalnya perutnya sakit. 

Puncak Merapi, salah satu puncak yang menurut saya menyeramkan, bukan cerita horror.. tapi.. tingginya itu loh… udah sampingnya terjal pula… 
Kami di puncak hanya 15 menit, karena saya ga bisa terlalu lama di atas. Takut mabok gara-gara ketinggian.
Turunnya, saya dibelakang bang Ophe lagi, dan cara jalan saya ternyata salah, jadi pasirnya masuk semua ke sepatu gara-gara kaki tenggelem terus di pasir.
Bang Ophe bisa lari di pasir, saya?? Jalan tapi kaki ga tenggelem di pasir aja udah bagus deh.. haha
Saya sampai di Pasar Bubrah lebih dari setengah jam. Ini ga tau jam di kamera rusak atau kenyataan.
Baru kali ini turun lebih lama dibanding naik, sama kaya berat badan lah yaa..
Istirahat, cekikikan, bersih-bersih, makan, bongkar tenda, packing untuk turun, dan tidak lupa.. dangdos dulu biar ga terlalu butek mukanya.

Setengah 9 pagi, kami siap untuk turun. Kami turun dengan kecepatan orang kelaparan dan cuma istirahat sebentar karena kebetulan perbekalan sudah hampir habis.

“Mba, itu tenda temannya bukan yang di bawah?” Tanya bapak (penduduk sana) saat kami melanjutkan jalan lagi dari pos 2
“Bukan pak”
Bapak itu melanjutkan dengan bahasa Jawa.
Ternyata, api dari gunung Merbabu sudah merembet ke Merapi. Kami yang memang ingin turun melanjutkan lagi perjalanan dengan kecepatan maksimal masing-masing.
Sampai di gerbang TNGM, kami bertemu dengan satu rombongan pendaki dan ranger Merapi. Katanya apinya sudah dekat dan pendaki yang ada di pos 2 harus di evakuasi semua ke Pasar Bubrah.
Rombongan pendaki yang baru memulai pendakiannya pun ikut membatalkan pendakiannya. Kalau pun memaksakan diri untuk tetap mendaki, mereka harus bisa dengan cepat sampai di Pasar Bubrah sebelum api. Mas, yakin mau balapan sama api? Di pos 1 keatas lebih banyak daun kering loh…
Kami pun tidak bisa lama-lama disana dan harus segera menuju pos New Selo.

Pukul 12 kami sampai di pos New Selo.
Daaan…. Istirahat sambil ngupi-ngupi.

Alhamdulillah.. pendakiannya lancar dan kami masih sehat hingga pulang. 

Perjalanan belum selesai, liburan kami tersisa 1 hari lagi. 
Berjalan lebih jauuuuh.... menyelam lebih dalaam.. - Banda Neira  
Apa yang kami lakukan hingga esok tiba?


Sekitar pukul 1 siang, kami jalan lagi menuju Masjid yang sebelumnya kami singgahi (saya lupa namanya)
Kami bersih-besih terlebih dahulu sebelum menuju Solo untuk menginap. Tidak lama, kami mendapatkan kendaraan untuk ke Solo. Perjalanan menuju Solo lebih tenang, kami yang lelah memanfaatkan untuk tidur selama perjalanan. 

Sampai di Solo - tepatnya warung di samping stasiun Solo Jebres – kami istirahat lagi dan membereskan isi tas.
Pukul 7 malam, jalan-jalan ala bocah ilang pun dimulai. Tujuan pertama yaitu keraton terdekat dari Solo Jebres. Setelah muter-muter, ternyata tempat tujuannya sudah sepi, akhirnya kami pun mampir ke Pusat Grosir Solo untuk makan malam. 

Cape keliling, kami kembali ke tempat kami menginap. Ala backpacker, kami menumpang tidur di warung yang tadi kami titipkan tas kami.
Di sebrang stasiun Solo Jebres ada angkringan yang pilihan makanan cukup banyak, kami sempat mampir untuk ngopi-ngopi di angkringan. Di belakang angkringan ada pasar yang cukup besar. Nah, di dalam pasar ada Masjid juga, jadi tenang deh, ga akan ketinggalan sholah jamaah. 

FYI, kalau kamu kebelet tapi toilet umumnya sudah dikunci, kamu bisa menumpang di toilet stasiun. Tapi sebelumnya Tanya dulu ke petugas yang ada disana. Kalau sudah dibolehkan, kamu harus titipkan ktp asli ke petugasnya.

Hari ke-3 di Solo
Selamat pagi Solo yang tenang.
Tujuan pagi ini yaitu Keraton Surakarta, yang kebeulan tidak terlalu jauh. Kami kesana tanpa menggunakan kendaraan alias jalan kaki. 
Para Pejalan
Pukul 9 kami sampai di Keraton Surakarta dan kami menjadi pengunjung pertama.. yeeaay…
Keraton Surakarta Hadiningrat ini terdiri dari istana dan lingkungan pendukungnya, seperti gapura (pintu gerbang) yang disebut Gladag pada bagian Selatan. Kemudian ada dua Alun-alun di sebelah Utara dan Selatan kompleks Keraton. Juga terdapat Masjid Agung dan Pasar Batik yang terkenal yaitu Pasar Klewer. 

Untuk masuk ke kawasan Keraton, pengunjung diharuskan memakai pakaian yang sopan, dilarang menggunakan sandal, topi dan kacamata hitam (kecuali sedang sakit mata).
Disana kami dibimbing oleh pemandu khusus dari keraton. Beliau yang menjelaskan mengenai sejarah dari keraton Surakarta. 



Selesai dari keraton Surakarta, kami mampir ke pasar Klewer yang letaknya tidak jauh dan memang sejalur dengan jalan menuju stasiun. 


Pukul 12 siang kami masih keliling di Solo, perut mulai lapar dan sebelum ke Stasiun Solo Jebres untuk istirahat kami mampir dulu untuk makan.

Lagi-lagi kami tidak menggunakan kereta yang sama untuk pulang ke Jakarta, ke-5 teman saya naik kereta ke Pasar Senen sekitar pukul 4, sedangkan saya menggunakan kereta yang datangnya tengah malam, alias pukul 12 malam.
“Yakin berani nunggu kereta sendirian?”
“Berani ko. Tenang aja, paling cuma sedih. Hha”


"Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara, mungkin juga cinta. Mereka yang memberikan rumah itu untuk kita, apa pun bentuknya. Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri sendiri; sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun." - Life Traveler


Sumber lainnya:
Wikipedia, http://www.soloinfoid.com, http://www.kerajaannusantara.com



1 komentar:

  1. merapi tak pernah ingkar janji, keren banget dah nih gunung

    BalasHapus

silahkan tinggalkan jejak anda ^.^b

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...