Minggu, 10 Mei 2015

Jelajah Baduy Dalam, Banten, Indonesia



Cerita sebelumnya disini


2 Mei 2015

Saya beserta rombongan sudah sampai di desa Cibeo, salah satu desa yang ada di baduy dalam. Sebelumnya kami melakukan perjalanan dari Ciboleger selama 4 jam, dengan melewati beberapa bukit. 



Pukul setengah 4 sore, kami berkeliling desa sambil mendengarkan sedikit penjelasan dari bang Zaenal - salah satu teman saya yang sudah cukup sering ke Baduy.

Suasana di desa Cibeo terasa sepi, para wanita sudah kembali ke rumah mereka masing-masing padahal sebelumnya mereka sedang berkumpul di dekat jembatan sambil menumbuk padi. Masyarakat Baduy Dalam memang dikenal pemalu, apalagi para wanitanya. Mereka lebih memilih untuk kembali ke rumah masing-masing jika ada pengunjung dari luar baduy datang kesana. Saat berkeliling desa, kita akan sadar kalau rumah di sana menghadap ke arah yang sama yaitu arah utara atau selatan, sesuai dengan aturan adat. 

Setelah dari tempat penumbukan padi, kami berjalan menuju satu bangunan atau aula yang didalamnya disimpan 2 angklung besar khas suku Baduy. Kedua angklung itu ditaruh diatas, jadi kami tidak bisa memegangnya. Aulanya kosong, kali ini saya tidak bertemu dengan anak-anak kecil yang memainkan musik disana. 

Tidak jauh dari bangunan itu, terdapat rumah Puun - sebutan untuk kepala desa. Rumah puun di kelilingi halaman yang cukup luas. Tidak semua orang boleh masuk ke halaman rumah Puun. Halamannya dibatasi dengan batang pohon bambu yang melintang serta 2 orang penjaga. 
Jadi, jika ada orang dari luar baduy atau pengunjung yang mendekati rumah Puun, penjaga akan memanggil pengunjung yang salah jalan itu dan memberitahukan kalau mereka salah jalan. Kalo ada yang dengan sengaja menerobos ke wilayah rumah Puun, nanti akan ada hukuman bagi yang melanggar atau istilahnya 'kutukan'.

Selain keliling desa Cibeo, kami juga berkunjung ke desa Cikertawana yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa Cibeo. Di jalan menuju desa Cikertawana, kami melewati beberapa leuit atau lumbung padi milik warga baduy. Leuit tersebut sengaja dibangun tidak terlalu dekat dengan pemukiman warga, hal tersebut dilakukan agar jika terjadi kebakaran di pemukiman warga, persediaan padi tidak ikut terbakar. 

Berbeda dengan Cibeo, desa Cikertawana terlihat lebih sepi bahkan saat saya kesana, saya hanya melihat satu orang yang ada disana. Dari Cikertawana, kami turun kembali ke arah kanan (bayangin ya..) menuju desa Cibeo. Kami melewati makam, tapi tidak seperti makam di perkotaan yang ada batu nisannya, makam disana hanya ditandai dengan 1 batang bambu.

Kami berjalan memutar untuk kembali ke Cibeo, dengan melewati sungai dan jembatan bambu. 

Selesai berkeliling, kami istirahat kembali sambil menunggu kedatangan Jaro. 
"Shanti kenapa aku sama Anggi ga dibangunin?" bang Inno bete
"Maaf bang, soalnya tadi ga enak mau bangunin, kan abang belum tidur tadi malem. Mba Anggi juga lagi tidur, ga enak kalo ngeganggu. Nanti pulangnya juga lewat sana lagi ko" jawab saya
Bang Inno dan mba Anggi yang udah sadar, akhirnya keliling desa Cibeo bertiga, lupa satunya lagi itu siapa.

Beberapa teman saya memilih untuk istirahat kembali sambil menunggu aba-aba tentang acara selanjutnya. Sedangkan saya memilih untuk membuat teh manis hangat di rumah Pak Aja, sembari ngobrol-ngobrol di depan rumah. 
Saya kalah sama Pak Aja, beliau lebih tau daerah Jakarta dibandingkan saya. #Disitukadangsayamerasasedih.
"Bingung nih, selasa mau ke Ulujami, mau bawa motor ga tau jalan" curhat saya ke bang Januar, salah satu teman baru saya.
"Ulujami jakarta?" kata Pak Aja ikutan ngobrol
"Iya pak, bapak udah pernah?" tanya saya
"Udah, dulu pernah kesana"
"Wah hebat, saya nyasar pak waktu ke sana. Bapak udah pernah kemana lagi?" tanya saya tambah penasaran
"Saya mah udah pernah ke Trisakti, ketemu bapak .. *lupa namanya*" Pak Aja sedikit cerita tentang kunjungannya ke sana.
"Saya aja belom pernah pak, cuma tau jalan dari rumah ke kampus aja" :’(
"Emang kampusnya dimana?" tanya Pak Aja
"UNJ pak"
"Oh, yang di Rawamangun?" Sapri - anak Baduy Dalam - tiba-tiba ikutan ngobrol
"Iya, Rawamangun, udah pernah kesana juga tah?"
"Saya sering main ke UNJ, tiap tahun kesana. Ketemu pak .. *lupa namanya* kenal ga sama bapak itu?"
"Waah... engga pak, beda fakultas kayanya. Bisa dong kapan-kapan ketemu di kampus" kata saya
Pak Aja cerita tentang perjalanannya ke beberapa kampus di Jakarta, katanya karena udah sering main kesana jadi sekarang ga ada yang ngelarang masuk ke lingkungan kampus lagi. Ada beberapa bagian dari cerita Pak Aja yang saya ga ngerti, karena Pak Aja pake bahasa Sunda. 

Hari semakin sore, bapak ketua pun mengingatkan saya untuk menyiapkan makan malam. Saya pun mencari bala bantuan ke rumah sebelah. 
Saya, Bunda, mba Tiwi dan mba Vina memasak untuk makan malam. Menu kali ini adalah telur dadar dan tumis jamur. 
"Sawinya untuk telur juga aja"
"Pake cabe rawit biar enak"
"Garemnya mana?"
"Pake sosis juga jamurnya"
Sore itu, rumah pak Aja berubah jadi ramai dengan suara para wanita yang lagi sibuk nyiapin makan malam. 
Kami memasak dengan menggunakan kayu bakar, saya yang tidak terbiasa dengan asapnya tidak bisa terlalu lama sendiri di dapur, karena asepnya berhasil bikin saya nangis.
Suasana memasak yang mengharukan. 
"Makanan sudah siap saudara-saudara..."
Para manusia kelaparan pun berdatangan mendekati saya alias makanan yang ada di belakang saya.
"Bang Inooo.. akhirnya telur dadar yang hilang digunung Lawu berhasil ditemukan....!!!"
"Oh iya, akhirnya.... Ya ampuuun....!"
"Hebat ya, pesen di Jawa Timur dapetnya di Banten. Ahahaaha..."
Jadi, waktu ke gunung Lawu ituuu.... Baca ini deh biar ngerti :)

Meskipun jauh dari rumah, tapi saya masih bisa ngerasain suasana kaya di rumah. Headlamp light dinner di Baduy dengan menu nasi (beras Baduy asli), telur dadar, tumis jamur dan teh manis anget. Alhamdulillah.. 
**
Langit udah berubah jadi gelap. Sekitar pukul setengah 7 malam kami selesai makan. Selanjutnya kami akan bertemu salah satu Jaro di Cibeo. 
"Nanti kita ke rumah Jaro ya, biar bisa tanya-tanya langsung tentang Baduy"
"Siiiaaaap.."
Pukul setengah 8 malam kami berkunjung ke rumah Jaro. Kalo bahasa kerennya sih, mendagrinya Cibeo gitu deh.

Rumah Jaro jaraknya cukup dekat dengan rumah Puun. Kami bertemu dengan salah satu Jaro, yang dipanggil dengan sebutan Ayah Sami. Awalnya saya kira beliau adalah orang yang kaku, tapi ternyata beliau termasuk orang yang humoris. Kami beberapa kali tertawa karena kalimat ayah Sami yang selalu memastikan kalau kami mengerti apa yang beliau sampaikan. Masyarakat Baduy menggunakan bahasa Sunda.
"Kalo nanya pake bahasa sunda ya"
"Baiklah.."
Bang Inno dan mba Anggi pun ditunjuk sebagai penerjemah jika kami ingin bertanya ke ayah Sami.
Ciri-ciri yang paling keliatan untuk membedakan masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar adalah ikat kepalanya. Masyarakat Baduy Dalam menggunakan pakaian berwarna putih atau rompi hitam dan ikat kepala berwarna putih sedangkan masyarakat Baduy Luar menggunakan ikat kepala berwarna hitam. Ciri khas pakaian dan ikat kepala tersebut sudah merupakan kewajiban dari jaman dulu. Ada beberapa peraturan adat yang harus ditaati oleh masyarakat Baduy Dalam, yang paling terkenal sebagai ciri khas masyarakat Baduy Dalam adalah tidak menggunakan kendaraan dan tidak mengenakan alas kaki. 

Masyarakat Baduy Dalam juga terkenal setia, mereka hanya diperbolehkan menikah sekali seumur hidup, kecuali pasangannya meninggal. Jika ada yang bercerai, maka pihak yang meminta untuk bercerai harus menerima sanksi adat yaitu diasingkan ke Baduy Luar. Masyarakat Baduy Dalam juga masih mengenal istilah perjodohan. Perjodohan itu dilakukan untuk sesama masyarakat Baduy Dalam.

Kepercayaan yang dianut suku baduy adalah sunda wiwitan. Masyarakat baduy sangat menjunjung tinggi peraturan adat yang sudah ada dari leluhurnya. Hal tersebut juga yang menjadi salah satu alasan budaya suku Baduy masih terjaga hingga sekarang, meskipun sudah lebih dari 40 tahun banyak pengunjung dari luar Baduy yang berdatangan. 

Peraturan lainnya di Baduy Dalam adalah, warga negara asing tidak dipebolehkan masuk ke wilayah Baduy Dalam, khususnya WNA kulit putih. Kata ayah Sami, bagi lelaki yang belum sunat juga tidak diperbolehkan masuk ke wilayah Baduy Dalam. 

Masyarakat Baduy Dalam tidak mengenal politik, untuk urusan pemilu, Baduy Dalam sudah mempercayakan kepada Baduy Luar. Untuk baju yang dipakai oleh masyarakat Baduy Dalam juga dipercayakan kepada Baduy Luar, mereka yang membeli bahannya dari Bandung.

Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy Dalam selain berladang adalah membuat kerajinan tangan seperti gelang dan hiasan lainnya. Meskipun mereka tidak diperbolehkan untuk sekolah, tapi masyarakat baduy bisa berhitung. 
"Prinsip hidupnya cukup dan sehat, itu aja" kata Ayah Sami
Ada beberapa upacara adat yang dilakukan suku baduy, yaitu upacara Kawalu, upacara Ngalaksa dan Seba. Saat Baduy Dalam sedang melaksanakan acara Kawalu, pengunjung dari luar Baduy tidak diperolehkan untuk memasuki kawasan Baduy Dalam.

Pertemuan kami dengan Jaro - ayah Sami selesai pukul setengah 9 malam, karena sudah malam dan semua pertanyaan sudah terjawab. Ayah Sami sangat senang dengan kunjungan kami ke sana, semoga selanjutnya kami masih bisa berkunjung dan bertemu lagi dengan ayah Sami. :)

Ayah Mursid dan Ayah Sami
Setelah berpamitan dengan ayah Sami, kami kembali ke rumah tempat kami menginap untuk istirahat. 

Rumah di Baduy Dalam berbentuk panggung, jadi kalo menjelang pagi udaranya lebih dingin dibanding malem. Beruntung, di sana kami di sediakan tikar anyaman jadi ga terlalu dingin. 
"Mau teh manis"
Sebelum tidur, saya menyempatkan untuk membuat teh manis terlebih dahulu. Kali aja besok pagi berubah jadi es teh manis. hihi...


3 Mei 2015

Pukul 4 pagi, Suhu pagi itu 24 derajat celcius, masih normal lah ya.. 
Alarm pagi pun menyala, bukan dari hape tapi alarm dari hidung. Saya bersin beberapa kali seperti biasanya. Teman-teman yang lain masih tertidur, saya pun mencoba untuk tidur kembali, tapi ga bisa. 
"Lah.. tehnya beneran jadi teh manis dingin. oh senangnyaa...." kata saya dalam hati
Sekitar 15 menit kemudian, keluarga pemilik rumah yang kami tumpangi sudah bangun. Di luar juga udah kedengeran suara beberapa orang yang lagi jalan-jalan. 

Ayam berkokok.. satu per satu teman saya juga terbangun. 
"Bund, ke sungai yuk" ajak saya
"Yuk"
Kami berjalan dengan bantuan sinar dari headlamp yang kami pakai. Ada suara-suara aneh dari arah sungai, ternyata itu suara anak kecil Baduy Dalam. Mereka memberikan tanda kepada kami untuk mematikan lampu senter yang kami pakai. 

Pukul setengah 6 pagi, saya dan bunda melakukan kunjungan ke rumah pak Aja dalam rangka membangunkan para abang-abang yang belom bangun sekalian mau menyiapkan makanan untuk sarapan. 
"Ibu, punteun.. mau numpang masak lagi ya bu" ijin kami ke istri pak Aja
"Iya, silakan. Itu nasinya udah di masak"
"Oh udah bu? Hatur nuhun ibu"
Jadi, tugas saya dan bunda tinggal masak lauk alias rencang sangu.
Menunya : telur dadar dicabein dan mie goreng dicabein.

Berhubung kemarin saya udah latihan ngadepin kebulan asap dari hawu, jadi kali ini saya ga terlalu banyak mengeluarkan air mata. 

Ada kejadian yang bikin saya tersenyum terus, saat saya sedang membuka bungkus mie instan yang cukup banyak sendirian, tiba-tiba anak perempuan pak Aja ikut ngebantuin tanpa bicara satu kata pun. Dia memberikan saya mangkuk yang ada di dekatnya dan membantu saya membuka tiap bungkus mie instan itu. 
Bahagia itu sederhana loh :')
"Bund, masak telur dulu ya?"
"Cabenya mau lagi ga bund?"
"Bund, airnya segini cukup?"
"Bund, airnya kurang"
Shanti lagi belajar masak pake hawu..
Makasih bunda, udah jadi tutor aku.. hehe

Setelah beberapa lama, makanan siap disantap.
"Makanan siap... ayo sarapan.. warung nasinya udah dibuka"
Para pelanggan yang udah ngantri di depan rumah langsung berebutan masuk dan mengambil makanan mereka masing-masing. #Boongbanget

Lagi-lagi sarapan pake teh manis, kali ini teh manis dingin. Pagi-pagi udah minum teh manis dingin, ga apa deh, yang penting bukan sikap kamu yang dingin *eh. 
Alhamdulillah...

Pukul setengah 8 pagi kami pamitan dengan keluarga pak Aja dan satu keluarga lainnya yang rumahnya kami tumpangi satu malam. 
"Hatur nuhun bapak, ibu"

Pulaaaang... yuuhuuu~~

Kami pulang menuju Ciboleger di temani pak Aja dan Sapri. 
15 menit jalan, kami disambut oleh tanjakan, langkah kaki pun melambat.

Untuk pulang, kami tidak lewat jalur yang sama dengan berangkat kemarin. Katanya jalurnya lebih pendek dibanding jalur berangkat. Katanya...

Tapi tetap harus lewatin beberapa tanjakan (lagi), turunan (lagi), sungai, jembatan.
Setelah 1 jam perjalanan, kami sudah boleh menggunakan hape, kamera dan hate yang kami bawa, bukan hati *uhuk.

Alurnya begini : Cibeo >> Cipaler >> Cicakal >> Gajeboh >> Balimbing >> Kadu Ketug 2 >> Ciboleger

bang Inno, Arman, Shanti

Jarak dari satu desa ke desa lainnya cukup jauh, kami harus melewati ladang dan beberapa bukit. Untuk jalur pulang ini, treknya lumayan enak untuk lari (kalo berani). Apalagi kalo udah di tanah kering. Kuncinya sih yang penting hati-hati.. lalaunan..

Salut, anak kecil udah sanggup bawa rumput sekarung :)
Setelah 1 setengah jam berjalan dari Cibeo, kami menemukan pertigaan. Belok kanan turunan, lurus jalan landai. Setelah beberapa menit, bang Metal sempet bingung, tapi akhirnya ngambil arah kanan yang jalannya turunan. 
Baru beberapa langkah, tiba-tiba bang Zaenal teriak dari belakang.
"Salah woooy.."

Di persimpangan jalan ini kami kebingungan
Bang Zaenal diikuti oleh para ajudannya ^o^
Setelah pertigaan itu, kami masih harus terus berjalan, dan lagi-lagi ketemu turunan. Ihiiiiy... lari lari lari... Bukan lari sih, tapi jalan cepet. Sebenernya selain jalannya turunan yang ga terlalu licin, saya jalan cepet karena mau rebutan toilet. Maklum aja, dari kemarin udah nahan perasaan mules. 
Jalan jalan teruuuus
Sekitar satu jam jalan, kami sampai di desa selanjutnya, disana kami ketemu dengan Pak Narja - warga Baduy Luar yang lagi duduk di luar. Saya dan teman-teman pun mendekati pak Narja sambil nanya-nanya tentang alat musik yang ada di depan pak Narja, dan kami meminta beliau untuk memaikannya. Nama alat musiknya adalah Celempung dan Karinding.

Celempung, alat musik khas Baduy.
Karinding alat musik khas sunda
Ngerubungin pak Narja
Ibunya lagi nenun
Jalan lagi.. foto-foto lagi..
Gangguin anak orang yang lagi main kelereng
Ngantre ya...
Saya dan Bunda Diah
Depan Leuit
warga baduy luar yang lagi gotong royong
Nyebrang dulu ke desa Gajeboh
Ini tempat sampah, bukan galah peranti ngambil buah
"Mana sih yang namanya tanjakan penyesalan versi baduy?"
"Sabaar.. bentar lagi.. istirahat aja dulu"
bawah:
Bang metal (nyelip), bang Hendri, bang Zaenal, Shanti, bang Gulit, Mba Nila, Zikra
Arman
"Sapri, tanjakan penyesalannya mana?""Itu, di depan. Sebentar lagi"
Sebelum sampai ke Ciboleger, akhirnya kami sampai di tanjakan penyesalan atau ada juga yang menyebutnya tanjakan ngehe. Di tanjakan ini, saya tidak bisa berjalan dengan kecepatan tinggi.
"Mari menghitung langkah"
Tanjakan ini salah satu ujian untuk orang-orang yang bawa pasangannya, karena disini kesabaran dan kesetiaan mereka diuji. Yaeyalaaah.. Situ mau nungguin anak orang di jalan tanjakan begini? Jalan sendiri aja udah ngos ngosan. Kecepatan jalan tiap orang kan beda-beda sist.

15, 20, 35 langkah jalan.. istirahat 10 detik.. lanjut jalan lagi. 
Tanjakannya biasa aja, tapi lumayan panjang jalannya.
Tenang, di atas ada ibu-ibu jualan es mambo kacang ijo. Itu seger bangeeet.. 
Setelah tanjakan penyesalan, jalannya udah nyantai lagi, naik-turun biasa. 

Sekitar setengah jam perjalanan, kami sampai di desa Ciboleger, tapi sebelum sampai di tempat tujuan alias rumah pak Jusen, ternyata saya memang harus duduk dulu untuk istirahat. Duduknya bukan duduk biasa, tapi duduk di aliran air. Alias.... saya kepeleset. 
Bukannya ditolongin, saat lagi duduk cantik di aliran air malah ada yang teriakin gitu dari belakang. Hih... 

Sebelum sampe, pake ada acara kepeleset dulu di aliran air

Pukul 12 siang saya dan teman-teman sudah sampai di rumah Pak Jusen. Kami pun langsung bersih-bersih, makan siang, dan packing untuk pulang. 

Saya dan Sapri
Sebelum pulang, saya sempat ngobrol-ngobrol bentar dengan Sapri. 
"Sapri umurnya berapa tahun?"
"18 tahun"
"Oh.. udah boleh nikah dong?"
"Belum, kalo laki-laki nikahnya umur 20 tahun, tapi kalo perempuan 16 tahun"
"Oooh.. cepetan nikah dong. hehe.."
"Tapi udah punya pacar?" tiba tiba ada yang ikutan kepo..
"Udah" jawab Sapri sambil malu-malu
"Tapi kan ga boleh pacaran"
"Cewenya yang di jodohin bukan? rumahnya dimana?" Ibu-ibu makin kepooo
"Iya, yang di jodohin. rumahnya sebelahan ko"
"Terus kalo pacaran kemana?"
"Ke ladang.. tapi ga boleh berdua aja, harus sama ibunya juga."
"Oh, jadi ke ladang bareng ya.."
"Waaaah....."
Jadi, mereka sebenernya emang ga boleh pacaran, soalnya kan mereka udah punya calon masing-masing. Kalo mau pergi sama calonnya juga ga boleh cuma berdua aja, tapi harus sama orang tuanya, itu juga bukan untuk main, tapi sekalian berladang. Karena bagi yang udah nikah harus punya ladang sendiri untuk keluarga. 

Tiap anak di Baduy Dalam juga punya gelang ditangannya yang udah di kasih sejak umur 3 hari, semacam jimat yang udah jadi kewajiban gitu. Sama kaya pakaian dan ikat kepala mereka. 

"Yuk pulang, udah jam setengah satu ini"
"Sapri... kita pulang dulu ya."
"Iya, kapan-kapan ke sini lagi ya"
"Iya Sapri, makasih ya"

Mari pulaaang
Beberapa menit setelah elf jalan..
"Bang, hape aku ketinggalan" Lapor saya dengan muka datar
"Serius?"
"Iya, hape aku ketinggalan"
"Beneran ga nih?"
"Beneran, hape aku ketinggalan."
"Kalo beneran ketinggalan, biar mobilnya berenti dulu"
"Iya beneran, hape aku ketinggalan"
"Bang.. berenti bang.. ada yang hapenya ketinggalan" Teriak bang Dedet
"Ketinggalan dimana?"
"Diwarung itu"
Kami pun turun dari elf dan mencoba untuk mencari ojek. Tapi karena emang masih di daerah sepi, jadi ga ada ojek yang lewat. Tapi ga lama, ada orang lewat pake motor dan bang Dedet pun menumpang ke orang itu untuk di antar ke rumah pak Jusen. 

Shanti, 22 tahun, masih belom ilang kebiasaannya. Pelupa.

Abang-abang di atas elf.
2 abang di depan hobi banget ngetawain orang yang lagi panik -_-
15 menit kemudian, bang Dedet sambil bawa hape saya yang ketinggalan. Dan kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Rangkas.

Sekian...
Gelang anyaman khas Baduy, udah susah nyarinya.
Dapet gelang ini pas udah mau jalan pulang
First, let me take a selfie.. yuuhuuu...

Semua orang dapat menjelajah apa pun yang mereka suka. Kamu bisa menjadi astronot jika kamu ingin. Tentukan apa yang kamu suka dan lakukan - Helen Thayer


sumber:
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/12/25/dinginnya-bermalam-di-kampung-cibeo-baduy-622670.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Kanekes
http://bpapbanten.blogspot.com/2014/03/suku-baduy.html
http://yulutrip.blogspot.com/2013/07/suku-baduy-urang-kanekes.html
http://traveling.bisnis.com/read/20150509/224/431561/suku-baduy-dalam-kokoh-pegang-amanah-leluhur-sunda-wiwitan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan jejak anda ^.^b

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...